Kamis, 21 Agustus 2014

jiyuu e no shoutai chapter 1 - epilog


Chapter 1
Epilog

Akhaya adalah negara tropis kecil yang damai, makmur subur dan kaya raya. Menjadi kota perdagangan karena terletak pada gugusan pulau Samotrake dan tergabung dalam aliansi Gosyen. Semua Negara menaruh hormat pada rajanya – Albus von Boscho, karena sang raja bisa membuat sebuah kerajaan yang hebat. Tidak hanya raja saja yang terkenal karena kebijaksanaannya, tetapi juga penasehat dan menterinya; Taka dan Pell. Terlebih pula pada puteri raja satu-satunya; Puteri Yoana. Namun sayangnya, sang puteri tidak pernah mendapat kasih sayang dari ibunya karena ibunya meninggal sewaktu melahirkannya. Dengan susah payah, sang raja beserta penasehat dan menterinya membesarkan dan memanjakan sang puteri hingga tumbuh manjadi seorang puteri yang cantik jelita. Selama pemerintahan Raja Albus, rakyat tidak ada yang mengeluh, karena semua kebutuhan mereka terpenuhi.
Akhaya memiliki 12 propinsi yang punya peranan sendiri sendiri. Propinsi-propinsi yang ada di Akhaya merupakan salah satu pendukung utama dalam aliansi Gosyen dalam gugusan pulau Samotrake. Ibu kota berada di Suna dan merupakan pusat administrasi Akhaya. Karmel adalah basis pertahanan Akhaya – pusat sistem pertahanan dan keamanan negara. Semua kekuatan militer Akhaya berada disini karena letak yang strategis. Arkill sebagai kota perdagangan dan pusat sektor ekonomi, karena disana terdapat pelabuhan besar yang sudah termasyur; Port Kuyt, merupakan pintu masuk utama menuju Akhaya. Selain itu juga merupakan pintu masuk perdagangan besar di Samotrake. Ketiga kota tersebut; Suna, Karmel dan Arkill merupakan jalur arteri kerajaan Akhaya.
Zomc sebagai kota industri kenamaan penyokong perekonomian aliansi Gosyen. Baik itu industri sandang, pangan, papan maupun senjata. Ghar-Ing adalah kota wisata Akhaya. Karena disana terdapat oasis yang begitu besar – Amber Oasis, sehingga banyak tumbuhan yang hidup disana dan menjadikan Gar-Ing sebagai kota yang segar. Gorgon adalah kota pendidikan. Gorgon seperti tempat untuk menghasilkan orang-orang yang berpendidikan dari seluruh pelosok negeri, karena sistem pendidikan di Gorgon amat berkembang.
Lepre adalah kota peternakan yang terkenal dengan peternakan hewan konsumsi maupun non konsumsi untuk negara aliansi maupun di luar aliansi. Untuk hewan konsumsi pada umumnya kambing, domba, sapi, babi, banteng dan kerbau. Untuk hewan non konsumsi biasanya untuk hewan peliharaan ataupun penangkaran hewan yang hampir punah dan hewan liar. Amire merupakan kota agrikultur. Amire yang merupakan daerah dataran tinggi yang dikhususkan untuk perkebunan buah dan sayur maupun tanaman hias. Sinai adalah kota pertambangan. Kota ini banyak bukit dan gunung yang mengandung sumber daya alam yang melimpah.  Kiel adalah kota perjudian. Sedang Sauri dan Dios adalah kota metropolis seperti Suna.
Namun semuanya mulai berubah semenjak kedatangan seorang yang menamakan dirinya sebagai salah satu dari 10 God Father. Beserta anak buahnya, Don King - nama orang itu - mulai menguasai Akhaya. Raja terpaksa menyerah dan tunduk padanya – menjadi raja boneka dan juga mengubah sebagian besar kota. Ghar-Ing menjadi kota padang gersang, karena oasisnya kini menjadi gurun. Sinai kini hanya menjadi kota tambang tua. Banyak sekali sisa-sisa bekas penambangan yang tergeletak begitu saja. Hanya beberapa yang masih beraktifitas. Karena dijadikan Don sebagai penjara kematian bagi para pembangkang.
Amire bernasib hampir sama dengan Ghar-Ing, karena tidak ada asupan air bagi pengembangan agrikulturnya. Mau tidak mau harus impor untuk mencukpi kebutuhan akan hijau hijauan. Gorgon menjadi sarang geng penjahat dan tentara bayaran dari negara lain dan pendidikan disana menjadi terabaikan. Karena orientasi Akhaya kini hanya untuk perang setelah dikuasai Don King. Kiel menjadi kota yang miskin, karena tak ada penjudi yang mau datang ke Akhaya.
Seiring dengan tunduknya sang raja, ketimpangan dalam pemerintahan mulai muncul dan ujung-ujungnya rakyat yang menderita – raja mulai kehilangan kewibawaannya, dan rakyat meminta agar raja mengundurkan diri. Keadaan istana tampak baik-baik saja jika dilihat dari luar. Namun, di dalam telah terjadi perubahan besar. Raja Albus yang hanya jadi boneka Don King dalam memerintah Akhaya menjadi kurang disegani oleh rakyat dan inilah yang diinginkan oleh Don King, rakyat sendiri yang menggulingkan pemerintah dan mengangkatnya sebagai raja selanjutnya.
Pada saat itulah, Don King mulai menampakkan diri sebagai pahlawan dan mulai memutarbalikkan fakta. Karena selama ini dia hanya berada di balik layar. Rencana untuk menggulingkan raja akhirnya terlaksana. Raja yang sudah kehilangan wibawa di depan rakyat, mau tidak mau harus mengundurkan diri. Ini kesempatan emas bagi Don King dan anak buahnya mengambil alih kekuasaan.
Raja dijebloskan ke dalam penjara, sedang penasehat dan menterinya dibebas-tugaskan dan pasukannya tetap dipekerjakan. Namun, Puteri Yoana tidak mau singgasana ayahnya direbut demikian. Dia memutuskan untuk melakukan pemberontakan. Satu keberuntungan disini yaitu Don King tidak pernah tahu kalau Raja Albus punya seorang puteri, karena raja menyembunyikannya di suatu tempat. Raja tidak ingin terjadi sesuatu pada puteri semata wayangnya.
 “Ini rencana yang sempurna bukan? Hey Callista, benar kan yang aku bilang tadi?”
“Benar Master Don. Kita beri image negatif King Albus pada rakyatnya dan sebaliknya, anda tonjolkan image positif anda untuk menarik perhatian mereka. Dan nantinya bakal muncul kelompok pro dan kontra terhadap anda dan King Albus. Akhirnya, terjadilah chaos seperti yang anda harapkan. Hahaha..!!” sahut Callista, sekretaris Don King.
“Dengan menggunakan negara ini aku akan menghancurkan God Father yang lain sehingga hanya aku yang akan menjadi satu-satunya God Father dan menjadi orang paling kuat di seluruh penjuru dunia. Akan ku jadikan sebuah dunia bari dibawah pemerintahanku. Hahahahahahaha...!!!!” kata Don King sambil memandang ke arah matahari.
“Benar Master Don, kami semua akan melayani sampai anda bisa mencapai tujuan anda. Karena anda-lah yang telah menolong dan memberi kami kekuatan ini.” Terang Callista.
“Benar tuan, kami akan mempertaruhkan nyawa kami seperti halnya yang dulu pernah tuan lakukan saat membebaskan kami dari penjara Rhodes Island.” Sahut Molokh yang memasuki ruangan bersama anak buah yang lain.
“Kami disini; Callista, Mamon, Lewiatan, Milkom, Amon, Gog, Dagon, kembar Asyera dan Asyitoret, Arkhelaus dan saya sendiri bersumpah setia pada Master Don King” tambahnya.
“Hahahaha...!! Kalian memang kebangganku. Sekarang berdirilah dan kita musnahkan para pemberontak ini...!!!” kata Don King.
Anak buah Don King bukan orang sembarangan. Mereka adalah para penjahat internasional yang diasingkan di Rhodes Island, terkecuali Callista yang masih misterius tentang masa lalunya. Saat masih terlibat kegiatan organisasi God Father, Don King diam-diam telah menyusun rencana pemberontakan dan berniat menghancurkan organisasi tersebut. Untuk mendukung ambisinya, dia dalam 10 tahun terakhir sudah mengumpulkan 10 orang penjahat tersebut.
Don King melihat peluang emas untuk menjadi penguasa dunia jika bisa menguasai Akhaya karena posisinya yang amat menguntungkan dan diperhitungkan dunia. Dengan dalih ingin mengurangi kegiatan organisasi God Father, Don King ingin tinggal di Akhaya. Hal tersebut tidak terlalu diperhitungkan oleh God Father lainnya, karena bsia dibilang mereka juga berada di sembilan pulau yang lain yang ada di gugusan pulau Samotrake.
Namun tetap saja keberadaan Don King membawa kesengsaraan bagi penduduk Akhaya. Keadaan kota-kota yang ada di Akhaya sudah berubah fungsi, kesejahteraan rakyat berkurang dan timpang, muncul pemberontakan dimana-mana. Tetapi tetap saja hal tersebut tidak bisa menghentikan niat Don King.
ΩΩΩ
Sementara itu di pinggiran barat Akhaya, Taka, Pell dan Puteri Yoana sedang berdebat mengenai rencana pemberontakan yang akan dilakukan oleh Puteri.
“Tuan Puteri, dengan segala hormat padamu, jangan lakukan rencana gila itu. anda bisa mati sia-sia. Hamba mohon Puteri mau mengerti.” kata Taka.
“Benar Puteri, kami telah berjanji pada King Albus untuk menjagamu dari incaran Don King. Dan kami tidak mau melanggar sumpah setia kami pada raja.” sahut Pell.
“Persetan aku dengan sumpah kalian!! Aku sudah tidak mau kucing-kucingan seperti ini terus. Terus-terusan kabur menghindari si King Kong jelek itu. Ini negaraku. APA KALIAN MAU NEGARA INI HANCUR…??!!!” tegas Yoana.
“Tapi Puteri…” sahut Taka dan Pell berbarengan.
“DIAM KALIAN…!!! Albus itu ayahku dan sudah sepantasnya kalian juga tunduk padaku jika ayah tidak ada. Aku mohon pada kalian…” pinta Puteri sambil tersujud dan menangis.
“Tenangkan dirimu tuan puteri. Janganlah gegabah. Perasaan kami juga sama dengan tuan puteri. Hanya saja, kita tidak mungkin mengalahkan Don King untuk saat ini. Kita memerlukan rencana yang matang dan bantuan dari pihak manapun.” Kata Pell menenangkan suasana.
“Bagaimana dengan sekutu kita? Apa mereka tidak bisa membantu kita?” tanya Yoana dengan penuh harap.
“Kami sudah mengirimkan pesan permintaan bantuan ke seluruh anggota aliansi Gosyen. Hanya saja belum ada balasan sama sekali, sekalipun dari sekutu kita yang terdekat seperti Galatia, Efesus, Filipi dan Kolose.” Terang Taka.
“Kami menduga pesan yang kami kirimkan telah disabotase mata-mata Don King.” Tambah Pell.
“Apa...??” tanya Yoana sambil berlinang air mata.
“Apa kita akan berakhir tanpa perlawanan? Apa kita harus kehilangan harapan untuk membebaskan negeri kita? APA KALIAN TIDAK PUNYA CARA LAIN?!!” tambah Yoana sambil terus menangis terduduk.
            Suasana hening sejenak. Taka dan Pell hanya saling memandang dan menatap Puteri. Memang benar apa yang dikatakan Puteri Yoana dan mereka juga tak mau melihat negara mereka hancur begitu saja. Dari negara yang subur-makmur, menjadi negara gersang dan kacau. Tapi mereka tidak tahu harus berbuat apa dengan kekuatan mereka. Walaupun mereka punya kemampuan Buah Iblis tipe Zoan (mengubah wujud menjadi hewan); Crow dan Falcon, tidak cukup kuat melawan Don King beserta anak buahnya yang juga memiliki kemampuan Buah Iblis.
ΩΩΩ
            Di timur Akhaya, Noch beserta sekelompok orang sedang merencanakan pemberontakan terhadap Don King. Mereka menamakan diri sebagai Akhaya no Dokuritsu-Aikokusha (Pejuang Kebebasan Akhaya). Noch berulang kali menyerang markas-markas kecil yang didirikan oleh Don King di berbagai kota secara sporadis. tidak jarang Don King geram dengan ulah Noch yang selalu mencuri persediaan makanan dan senjata.
Dalam melakukan itu, Noch selalu bertaruh nyawa. Bukan hanya nyawanya sendiri, tapi nyawa orang banyak; nyawa ayahnya, teman-teman yang membantunya bertarung dan nyawa orang-orang yang bergantung padanya. Dia beserta para warga Akhaya yang tidak mau tunduk pada Don King, tinggal menetap di kota Ghar-Ing - timur Akhaya yang kini menjadi daerah padang gersang. Satu keuntungan yang diperoleh Noch adalah Don King hampir tidak pernah menjamah daerah ini.
            “Teman-teman, kita tidak mungkin terus melakukan gerilya seperti ini. Sudah saatnya kita untuk bebas seperti waktu dulu, saat negara ini masih dipimpin oleh ayah Yoch. Aku akui aku merasa nyaman saat tua bangka sialan itu memimpin. Tapi aku tidak menyangka tua bangka sialan itu malah kalah dan menyerahkan negara ini pada orang yang tidak jelas dari mana asalnya. Bagaimana menurut kalian? Bill? Jhon?” kata Noch saat pertemuan rutin.
“Aku setuju denganmu Noch. Tapi bagaimana cara kita melawan si Don King dan anak buahnya yang punya kemampuan Buah Iblis yang dimiliki mereka? Dan kau tahu sendiri banyak dari orang kita yang tewas mengering saat berhadapan langsung dengan Don King di Ibu Kota tahun lalu. Jujur ku akui bahwa mereka kuat.” tegas Jhon.
“Memang benar mereka kuat. Aku telah kehilangan adikku satu-satunya saat melawan mereka. Tapi aku bersumpah bahwa aku akan mengalahkan salah satu dari mereka demi membalaskan dendam adikku.” jelas Bill.
“Jadi, apa rencana kalian?” sahut Noch.
“Hmm.. kita lakukan gerilya seperti biasa. Namun kali ini tidak sporadis seperti yang biasa kita lakukan. Kita mulai dai bagian selatan Akhaya. Pola serangan berbentuk pola segi tiga. Kita membuat pertahanan di bagian selatan, so, kita harus bisa merebut seluruh daerah selatan dan merekrut orang untuk membantu kita. Karena aku yakin, di luar sana masih ada banyak orang yang ingin memberontak pada Don King.” jelas Bill.
“Rencana bagus. Baiklah, kita bagi menjadi lima grup yang akan menyerang lima kota utama di selatan Arabasta. Masing-masing grup terdiri dari 200 orang. Bawa senjata dan perlengkapan komunikasi kalian. Kali ini kita akan benar-benar mengusik harimau dan bertaruh nyawa. Aku akan memimpin grup satu dan menyerang kota Arkill. Bill, Jhon memimpin grup dua dan tiga dan menyerang kota Zomc dan Lepre. Ralf, Dough memimpin grup empat dan lima dan menyerang kota Gorgon dan Amire. Kali ini kita berpisah dan aku ingin bertemu kalian di ibu kota dan ajak mereka-mereka yang bersedia ikut dengan kita. Teman-teman, kita berpisah unutuk sementara. Dan, aku mohon bantuan kalian, kita mulai bergerak lima hari lagi saat pagi buta.” tegas Noch berapi-api. Sesuai jadwal, mereka berangkat.
ΩΩΩ
Di Suna, Don King kerap kali bertindak menjadi pahlawan untuk menarik simpati rakyat. Dia selalu turun tangan saat ada segerombolan pengacau yang membuat kerusuhan ataupun pemberontakan di kota. Akhirnya dia mendapat julukan Master Don the Sand Man of Justice
“Bwahahaha…!!! Aku dengar disini ada orang hebat yang bernama Master Don. Dimana dia? Akan aku habisi dia..!!” kata Terk, seorang pimpinan pemberontak sambil mengobrak-abrik kota.
“Ya benar, dimana Master Don kalian? Ternyata dia seorang pengecut, tidak berani menampakkan batang hidungnya. Hahaha… dia pasti sudah kabur saat melihat kedatangan kami. Mulai sekarang, kalian harus tunduk pada kami. Hahaha…!!!” tambah yang lain.
“Master Don bukan pengecut. Dia pasti akan datang untuk kami. Dia hebat. Kalian pasti dihabisinya dalam sekejap.” kata seorang pedagang.
“Apa? Bwahahaha… lucu sekali dirimu mengharap kedatangan orang yang sudah kabur meninggalkan kalian. Kalau saat ini dia datang, aku akan….”
Tiba-tiba ada angin puyuh pasir muncul mengagetkan semua. Situasi sejenak hening.
“Master Don..!!! Benar itu Master Don. Beliau datang menyelamatkan kita. Aku tahu dia tidak akan meninggalkan kita begitu saja. Kali ini, tamatlah riwayat kalian..!!” celetuk seseorang
 Dengan suara yang mengelegar, “Siapa yang kau bilang pengecut? Siapa yang kabur? Siapa yang yang kau maksud? Dan apa yang akan kau lakukan? Lanjutkan bicaramu!!” kata Don King saat muncul di belakang para perusuh itu.
“Dd.. dd.. dd.. Don King… Aa.. aa.. aku… Aku akan mencincangmu…” ucap Terk terbata-bata.
“Oh… begitu rupanya. Hahaha… sekarang serang aku dengan seluruh kemampuan yang kau punya. Aku tak akan bergerak.”
“Master Don, apa kau sudah gila?? Kau bisa terluka. Lihat tembok gedung itu, Terk menghancurkannya dengan pukulannya. Kalau kau tidak mengelak, tulang-tulangmu bisa remuk dibuatnya.” ucap seseorang.
“Benar! Paling tidak, mengelaklah, jangan diam saja.” sahut yang lain.
“Kalian mulai meragukanku ya? Kalian tenang saja, aku tidak akan kalah semudah itu. Aku hanya tidak ingin membuatnya kecewa karena sudah jauh-jauh datang kemari.” kata Don.
“Hahaha… sungguh dramatis sekali. Kau dikhawatirkan oleh orang-orangmu sendiri. Baiklah,, terimalah pukulanku ini. HAMMER…….” kata Terk sambil menyerang
 Namun tiba-tiba, “Argh… argh… aaaaaaaaaaargh!!!! Tangankuuww!!…. Tanganku mengering…!!!!!” erang Terk.
“Sekarang giliaranku menyerang, rasakan ini SABAKU KANSOU….!!!”
Terk dapat dikalahkan dengan mudah hanya dengan sekali serangan oleh Don tanpa sisa. Serempak semua orang yang ada disana bersorak sorai mengelu-elukan Don
“Hidup Don!! Hidup!!”
Sekarang, populasi terpusat di sekitar jalan arteri Akhaya. Penduduk kota-kota yang kini bisa dikatakan hancur pindah mendekati ibu kota, sehingga menjadi lebih padat. Orang-orang tersebut telah diperdaya oleh aksi Don King dan lebih memilih memihak Don King demi kelangsungan hidupnya. Sementara penduduk yang lain yang enggan memihak Don King tetap tinggal di tempat asal dan diklaim sebagai pemberontak.
Lepas dari apa motivasi mereka dalam memberontak, jika tidak sejalan dengan Don King dimana menggunakan kekuasaan raja dianggap pemberontak terhadap raja. Banyak pemberontakan yang terjadi namun hal tersebut bisa diatasi oleh Don King karena hanya pemberontakan kecil dan tidak terorganisir. Namun hal tersebut tidak bertahan lama sampai pemberontakan besar yang dipimpin Noch terjadi.

0 komentar:

Posting Komentar

 

iseng iseng © 2008. Design By: SkinCorner