Senin, 25 Agustus 2014

PERKEMBANGAN PENDIDIKAN BAHASA JEPANG PADA PERGURUAN TINGGI DI SURABAYA TAHUN 1980 – 2013



BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Jepang pasca Perang Dunia ke-2 menjadi negara demokratis yang lebih memilih untuk bersahabat dan mementingkan demokrasi untuk membina hubungan dengan negara lain secara damai. Tujuan pokok politik luar negeri Jepang adalah memberikan sumbangan bagi perdamaian dan stabilitas dunia[1]. Karena melalui cara tersebut dapat mengarahkan dalam pencapaian keamanannya sendiri dan kemajuan kesejahteraan rakyatnya[2].
Hubungan atau interaksi antara Jepang dengan Indonesia sendiri telah ada sejak lama, bahkan jauh sebelum Jepang datang untuk menjajah Indonesia. Kecenderungan yang mereka lakukan adalah aktivitas dagang[3], terutama penduduk dari kawasan Kyuushuu. Di Indonesia sendiri, pada tahun 1897 (Meiji 30), terdapat 125 orang Jepang[4] dan pada tahun 1909 terdapat 614 orang Jepang[5]. Juga pada saat Indonesia sedang dijajah Belanda dalam hal pengiriman pelajar Indonesia ke Jepang untuk belajar di Jepang[6]. pada saat Jepang menjajah Indonesia pun  juga terdapat pengiriman pelajar ke Jepang[7].
Masa pendudukan Jepang atas Indonesia selama tiga setengah tahun merupakan periode yang paling menentukan dalam sejarah Indonesia. Selama pendudukan Jepang banyak sekali perubahan-perubahan yang terjadi dalam masyarakat Indonesia menuju ke arah revolusi[8]. Dimana terjadi perubahan strata pendidikan di kalangan masyarakat Indonesia hingga memunculkan pergerakan pemuda di Indonesia. Rakyat Indonesia menjadi makin berani untuk melakukan perlawanan dengan Belanda[9], juga menjadikan pendidikan sebagai hal yang penting yang sebelumnya mendapat perlakuan minor dari pihak Belanda[10].
Tanggal 20 Januari 1958 merupakan tanggal yang paling bersejarah. Tanggal tersebut merupakan awal hubungan diplomatik dan ditandatangani traktat damai dan pampasan perang antara pemerintah Jepang dan pemerintah Indonesia[11], lalu hubungan diplomatik Indonesia – Jepang secara resmi dimulai pada April 1958[12]. Kunjungan lawatan Soekarno yang pertama ke Jepang dilakukan pada tanggal 6 Juni 1959 untuk membahas mengenai pampasan perang dan kerjasama. Sejak akhir 1960-an hubungan ekonomi antara Indonesia dan Jepang sangat erat. Bagi Indonesia, Jepang adalah negara paling penting bagi ekspor-impornya. Bagi Jepang, Indonesia negara nomor dua sesudah Amerika Serikat dalam jumlah ekspor-impornya. Jepang menanamkan modalnya di Indonesia, terbesar di antara negara-negara berkembang. Begitu pula jumlah bantuan ekonominya[13].
Joseph S. Nye dalam bukunya Soft Power- The Means to Success in World Politics, mengungkapkan soft power sebagai kemampuan mencapai tujuan dengan tindakan atraktif dan menjauhi tindakan koersif. Di tataran hubungan internasional, soft power diawali dengan membangun hubungan kepentingan, asistensi ekonomi, sampai tukar menukar budaya dengan negara lainnya[14]. Hal itulah yang dilakukan oleh Jepang terhadap Indonesia yang merupakan salah satu bekas negara jajahannya berupa bantuan ekonomi atau pinjaman lunak.
Hubungan atau interaksi tersebut sebagian besar adalah dalam urusan ekonomi (perdagangan dan investasi). Jepang mengimpor banyak sumber daya alam dari Indonesia berupa gas alam, terlebih sejak gempa yang terjadi pada 11 maret 2011[15]. Jepang memasarkan produk-produk industrinya ke Indonesia karena Jepang menginginkan Indonesia khususnya dan Asia Tenggara umumnya menjadi tempat yang penting bagi masa depan perekonomiannya yang dilandaskan hubungan yang saling menguntungkan dan dapat ditingkatkan. Namun, dalam perkembangannya tidak hanya dalam urusan ekonomi saja, melainkan hampir ke semua aspek, khususnya dalam bidang pendidikan dan kebudayaan. Jepang memberikan beasiswa bagi pelajar asing untuk belajar di universitas-universitas di Jepang. Juga, pembuatan pusat kebudayaan Jepang sebagai sarana infiltrasi budaya[16].
Jepang secara terbuka membuka beasiswa bagi pelajar Indonesia yang ingin belajar ke Jepang. Setelah melewati berbagai macam seleksi segera mereka akan diberangkatkan, namun sebelum itu mereka mendapat pembekalan mengenai bahasa Jepang di lembaga-lembaga pendidikan yang ada ataupun belajar dari alumni yang sudah pernah ke Jepang sebelumnya. Seiring dengan meningkatnya kualitas hubungan persahabatan dan kerjasama Indonesia dengan Jepang di banyak bidang. Hingga sampai pada saat ini, pelajaran bahasa Jepang diselenggarakan di SMA, universitas, dan tempat kursus bahasa asing. Minat pembelajar bahasa Jepang di Indonesia cukup besar[17]. Dari tahun ke tahun terus bertambah, baik dari jumlah pembelajarnya maupun lembaga penyelenggaranya.
Data survey Japan Foundation tahun 1998 menyebutkan terdapat 413 intitusi penyelenggara pendidikan bahasa Jepang (pendidikan menengah, pendidikan tinggi maupun institusi non kependidikan), dengan jumlah pengajar sebanyak 1.159 pengajar dan 54.016 pembelajar bahasa Jepang[18]. Pada tahun 2003 terjadi peningkatan jumlah intitusi yang menyelenggarakan pendidikan bahasa Jepang, yaitu menjadi 608 institusi, jumlah pengajar menjadi 1.702 orang, sedang pembelajar sejumlah 85.221 orang[19]. Pada tahun 2006 juga terjadi peningkatan yaitu terdapat 1.084 institusi penyelenggara pendidikan bahasa Jepang, 2.651 pengajar dan 272.719 pembelajar bahasa Jepang di Indonesia[20]. Pada tahun 2009 terdapat 1.988 institusi penyelenggara pendidikan bahasa Jepang, 4.089 pengajar bahasa Jepang dan 716.353 pembelajar bahasa Jepang di Indonesia[21]. Pada tahun 2012 terdapat 2,346 institusi penyelenggara pendidikan bahasa Jepang, 4,538 pengajar bahasa Jepang dan 872.411 pembelajar bahasa Jepang di Indonesia[22].
Dilihat dari latar belakang dalam mempelajari bahasa Jepang, ada tiga hal umum yang menjadi latar belakang dalam mempelajari bahasa Jepang, yaitu tertarik akan budaya Jepang, berminat untuk mempelajari bahasa Jepang dan ingin berkomunikasi dengan bahasa Jepang. pada tahun 1998, faktor yang paling mendasari meningkatnya pembelajar bahasa Jepang di Indonesia adalah karena ingin meningkatkan kemampuan berbahasa Jepang untuk mendapatkan kesempatan kerja di perusahaan Jepang. Pada tahun 2003 kecenderungannya adalah untuk masuk di perguruan tinggi di Jepang. Pada tahun 2006 kecenderungannya untuk bekerja di perusahaan Jepang. Pada tahun 2009 kecenderungannya karena tertarik akan budaya dan membahami bahasa Jepang. pada tahun 2012 didorong oleh kesenangan pada budaya Jepang[23].
            Di Jawa Timur, peminat bahasa Jepang merupakan yang tertinggi kedua setelah Jawa Barat. Menurut Masaaki Takano, hal tersebut dapat terlihat dari banyaknya pelajar yang mendapat beasiswa pergi ke Jepang. Tidak hanya itu, menurut Rektor Untag Surabaya, Prof. Dr. Hj. Ida Ayu Brahmasari, drg. Diphl, MPA juga menyatakan hal yang sama saat menghadiri acara Kanji Cup yang diadakan Konjen Jepang di Surabaya bekerjasama dengan Untag pada Maret 2011[24].
            Sekitar pada tahun 1980-1990-an ada tiga universitas di Jawa Timur yang menyelenggarakan pendidikan bahasa Jepang, yaitu Unesa, sebagai universitas Negeri pertama tingkat sarjana yang menyelenggarakan pendidikan bahasa Jepang di Jatim awal tahun ’80-an, disusul Unitomo pada tahun 1992 dan kemudian Untag pada tahun 1994[25]. Hingga sampai kisaran tahun 2006, jumlah universitas yang mengadaklan pendidikan bahasa Jepang menjadi enam, diantaranya; Universitas Pesantren Tinggi Darul Ulum, Unibraw, Unair, Unesa, Unitomo dan Untag.
Di Surabaya sendiri terdapat empat Universitas penyelenggara pendidikan bahasa Jepang. Bahasa Jepang dinilai penting untuk dimasukkan ke dalam pendidikan perguruan tinggi dikarenakan tidak sedikit perusahaan Jepang yang berinvestasi di Surabaya. Penguasaan terhadap bahasa asing terutama bahasa Jepang memiliki prospek yang cukup menjanjikan di Surabaya. Ketersediaan lapangan pekerjaan, jika menguasai bahasa Jepang tidak lagi terbatas pada lapangan pekerjaan yang ada di Indonesia tetapi juga di Jepang. Tidak hanya itu pula, jumlah peminat terhadap bahasa dan budaya Jepang makkin berkembang di kampus-kampus di Surabaya[26].

B.     Rumusan Masalah
Berdasar hasil observasi yang dilakukan penulis dari tahun 2011, penulis menduga kuat bahwa peminatan akan bahasa Jepang di Surabaya mengalamai peningkatan. Hal ini dapt dilihat dari jumlah pendaftar perguruan tinggi baik negeri maupun swasta yang bertambah. Tidak hanya itu, peserta lomba-lomba kemampuan berbahasa dan pengetahuan budaya Jepang yang sering diadakan oleh fakultas yang memiliki jurusan bahasa dan sastra Jepang pun mengalami peningkatan.
Tidak hanya dari dalam Surabaya saja, tapi dari luar Surabaya pun dan bahkan di hampir seluruh Jawa Timur. Penulis mensinyalir bahwa bahasa Jepang sudah mulai diterima oleh dan menarik perhatian masyarakat (khususnya Surabaya) untuk dipelajari. Beerdasar hal tersebut, penulis mencoba menarik sebuah permasalahan, yaitu:
·         Bagaimana perkembangan pendidikan bahasa Jepang di Surabaya, khususnya di tingkat perguruan tinggi, antara tahun 1980 – 2013 yang meliputi: mulai dari kapan mulai diperkenalkan, dimana, siapa sasaran pertama hingga menyangkut kurikulum yang digunakan dalam pembelajaran di masyarakat.
Pada tahun 1980 berdiri jurusan pendidikan Bahasa Jepang di Unesa sebagai universitas penyelenggara pendidikan bahasa Jepang pertama di Surabaya.

C.    Tujuan dan Manfaat
Tujuan dari penulisan skripsi ini adalah untuk menjawab permasalahan yang penulis temukan yaitu mengetahui bagaimana perkembangan pendidikan bahasa Jepang di Surabaya. Saat penulisan ini selesai diharapkan dapat memberikan informasi bagaimana perkembangan bahasa Jepang di Surabaya, baik bagi masyarakat umum maupun tingkat perguruan tinggi dan lembaga-lembaga yang terkait dengan pendidikan bahasa Jepang di Surabaya. Karena hal yang berbau tentang Jepang di Surabaya yang dikenal masih terbatas pada budaya populer Jepang yang banyak digemari masyarakat, khususnya para pemuda Surabaya. Diharapkan penulisan ini nantinya akan membantu masyarakat di Surabaya agar bisa mengetahui bahwa Jepang dan bahasanya tidak bisa dipisahkan dan layak untuk dipelajari oleh semua kalangan.

D.    Landasan Teori dan Konsep
Teori yang mendasari penulisan skripsi ini adalah teori pendidikan bahasa, yaitu seperangkat konsep-konsep tentang pendidikan yang berangkat dari asumsi-asumsi mendasar mengenainya. Konsep yang dimaksud bisa dimulai dengan konsep mengenai manusia, yang bisa sebagai peserta didik maupun pendidik, dan juga sekaligus alat yang diperlukan untuk pendidikan itu sendiri[27]. Dalam teori pendidikan, terdapat sebuah asumsi tentang pendidikan itu sendiri berdasarkan kondisi atau kenyataan yang ada di lapangan[28], tujuan ideal yang ingin dicapai dan norma yang ingin dicapainya[29].
Teori yang selanjutnya adalah teori belajar bahasa[30]. Belajar adalah acquiring or getting knowledge of a subject or a skill by study, experience, or instruction (pemerolehan ilmu melalui belajar, pengalaman, pelatihan (Ellis, 1986)). Jadi, teori belajar bahasa adalah gagasan-gagasan tentang pemerolehan bahasa. Dalam belajar, biasanya dilakukan dengan sengaja, harus direncanakan sebelumnya dengan struktur tertentu, guru menciptakan pembelajaran buat siswa. memberikan hasil tertentu buat siswa, hasil-hasil yang dicapai dapat dikontrol dengan cermat, sistem penilaian dilaksanakan secara berkesinambungan (Oemar Hamalik 2001: 154)[31].
Terdapat teori yang mempengaruhi teori belajar bahasa, yaitu teori nativisme (mentalistik) Chomsky (Ellis, 1986: 4-9)[32] yang menyebutkan bahwa hanya manusialah satu-satunya makhluk Tuhan yang dapat melakukan komunikasi lewat bahasa verbal dan telah memiliki“alat penguasaan bahasa” atau LAD (language Acquisition Device). Selama belajar bahasa pertama sedikit demi sedikit manusia akan membuka kemampuan lingualnya yang secara genetis telah terprogramkan. Dengan perkataan lain, mereka menganggap bahwa bahasa merupakan pemberian biologis sejak lahir.
Kemudian teori behaviorisme John B. Watson (1878-1958)[33] yang menyebutkan bahwa semua perilaku, termasuk tindak balas (respons) ditimbulkan oleh adanya rangsangan (stimulus). Dengan kata lain, terdapat sebuah rangsangan dalam mempelajari sebuah bahasa, terlebih dari lingkungan (Skinner, 1957)[34]. Jika pada saat merespon rangsangan tersebut menghasilkan sesuatu yang positif bagi dirinya, maka akan terus dipertahankan dan dikembangkan. Jika tidak, maka perlahan-lahan akan disisihkan.
Manusia pada dasarnya bisa menjadi perangkat/alat dalam kehidupannya sendiri. Dengan kata lain memiliki bakat alami/bakat bawaan berbentuk kemampuan intelegensi yang terdiri dari intelegensi kognitif[35] dan emosional[36]. Dalam proses pendidikan, diharapkan setiap individu memiliki kemampuan kognitif[37], afektif[38], dan psikomotorik[39]. Terdapat pola tahapan proses belajar bahasa yaitu: proses penyesuaian pengetahuan baru dengan struktur kognitif (asimilasi), proses penyesuaian struktur kognitif dengan pengetahuan baru (Akomodasi), proses penerimaan pengetahuan baru yang tidak sama dengan yang telah diketahuinya (Disquilibrasi), proses penyeimbang mental setelah terjadi proses asimilasi (Equilibrasi).
Konsep yang penulis pakai yaitu konsep mengenai pendidikan tinggi. Secara pengertian, pendidikan tinggi merupakan jenjang pendidikan setelah pendidikan menengah yang mencakup program pendidikan diploma, sarjana, magister, spesialis, dan doktor yang diselenggarakan oleh perguruan tinggi. Pendidikan tinggi diselenggarakan dengan sistem terbuka, yang diselenggarakan untuk menyiapkan peserta didik menjadi anggota masyarakat yang memiliki kemampuan akademik dan/atau profesional untuk dapat menerapkan, mengembangkan dan/atau menciptakan ilmu pengetahuan, teknologi dan/atau kesenian dan dapat dilakukan melalui proses pembelajaran yang mengembangkan kemampuan belajar mandiri[40].
Sedang perguruan tinggi sendiri adalah satuan pendidikan yang menyelenggarakan pendidikan tinggi dan dapat berbentuk akademi[41], politeknik[42], sekolah tinggi[43], institut[44] dan universitas[45]. Perguruan tinggi dapat menyelenggarakan program akademik, profesi, dan/atau vokasi [46]. Pendidikan tinggi terdiri dari pendidikan akademik yang memiliki fokus dalam penguasaan ilmu pengetahuan dan pendidikan vokasi yang menitik beratkan pada persiapan lulusan untuk mengaplikasikan keahliannya[47].

E.     Tinjauan Pustaka
Penelitian atau buku yang mengkaji tema yang penulis angkat dalam skripsi ini sudah banyak ditulis. Diantaranya dalam buku Mr. Sujdono, Mendarat dengan pasukan Jepang di Banten 1942 (Disunting: Soebagijo, I. N., Gunung Agung. 1983) yang menuliskan sekelumit kisah tentang menempuh studi di Jepang pada masa sebelum Perang Pasifik. Kemudian dari buku karya Sjahrazad, Indonesische Overpeinzingen, yang menuliskan tentang isi surat dari Sutan Syahrir kepada istrinya yang menyebutkan tentang propaganda Jepang terhadap rakyat Indonesia di hampir seluruh wilayah Indonesia tentang kekuatan Jepang dan mengarahkan untuk belajar ke Jepang. Buku yang lain ialah buku yang berjudul Suka duka Pelajar Indonesia di Jepang. Buku ini berisi kisah pelajar-pelajar Indonesia yang pergi belajar ke Jepang sebelum dan sesudah perang pasifik. Sementara itu, buku ataupun karya tulis maupun penelitian yang meneliti atau membahas bagaimana perkembangan pendidikan bahasa Jepang di Indonesia khususnya di Surabaya belum pernah ada.

F.     Metode dan Sumber Penelitian
Penelitian ini menggunakan metode penelitian sejarah yaitu metode atau cara yang digunakan sebagai pedoman dalam melakukan penelitian peristiwa sejarah dan permasalahannya. Dengan kata lain, metode penelitian sejarah adalah instrumen untuk merekonstruksi peristiwa sejarah (history as past actuality) menjadi sejarah  sebagai kisah (history as written). Dalam ruang lingkup Ilmu Sejarah, metode penelitian itu disebut metode sejarah[48]. Lebih khusus lagi, menurut Gilbert J. Garragham (1957: 33) menyebutkan bahawa metode penelitian sejarah adalah seperangkat aturan dan prinsip sistematis untuk mengumpulkan sumber-sumber sejarah secara efektif, menilainya secara kritis dan mengajukan sintesis dari hasil-hasil yang dicapai dalam bentuk tertulis[49].
 Dalam penelitian sejarah, terdapat langkah-langkah yang harus dilakukan, yaitu pertama: pemilihan topik. Topik merupakan sebuah masalah atau obyek yang harus dipecahkan melalui penelitian ilmiah yang dipengaruhi oleh motif penelitian dari penulis[50], berdasar kedekatan emosional dan kedekatan intelektual (Kuntowijoyo, 1995: 90)[51], yang bernilai[52], orisinil[53] dan praktis[54] (T. Ibrahim Alfian, 1984: 17-18; dalam Dudung Abdurahman. Hal 57).
Langkah kedua yaitu penyusunan rencana penelitian atau yang biasa disebut dengan proposal penelitian. Dalam hal ini apa yang penulis akan lakukan dalam sebuah penelitian dijabarkan dalam bentuk proposal. Isi pokok dalam penelitian sejarah adalah latar belakang, batasan dan rumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian, tinjauan pustaka, landasan teori (bisa tidak digunakan), dan metode penelitian.
Lagkah ketiga yaitu pengumpulan sumber sebagai bahan untuk merekonstruksi sebuah peristiwa sejarah. Teknik yang penulis gunakan adalah heuristik yaitu dengan membaca bibliografi terdahulu mengenai topik penelitian untuk mengumpulkan sebagian data dan juga bisa mencatat sumber terkait yang digunakan. Sumber yang umum digunakan untuk membuat historiografi umumnya sumber primer[55]. Sumber primer yang penulis maksud dalam penelitian ini yaitu berupa data-data tentang kronologi pendirian jurusan bahasa/sastra Jepang di universitas yang ada di Surabaya yang dimiliki oleh universitas yang mengadakan pendidikan bahasa Jepang di Surabaya.
Namun demikian tidak mudah pula untuk mendapatkan sumber primer. Oleh karena itu penulis menggunakan sumber sekunder berupa berita di koran, majalah, buku ataupun media internet. Selain itu, penulis juga melakukan wawancara langsung dengan pelaku peristiwa sebagai sumber alternatif. Berdasar uraian sebelumnya terdapat empat universitas yang menyelenggarakan pendidikan bahasa Jepang, sehingga informan wawancara berjumlah empat orang yang adalah ketua jurusan bahasa/sastra Jepang di masing-masing universitas ataupun juga dosen yang mengajar disana.
Langkah keempat yang penulis lakukan adalah verifikasi atau kritik sumber. Sumber-sumber yang sudah terkumpul tersebut penulis verifikasi melalui kritik intern untuk mengetahui kesahihan atau kelayakan sumber (kredibilitas) untuk mendeteksi adanya kekeliruan yang mungkin terjadi[56]. Langkah kelima yaitu interpretasi sejarah atau analisis sejarah. Ada dua metode yang penulis gunakan, pertama yaitu, analisis sejumlah fakta dari sumber yang ada. Metode kedua yaitu sintesis fakta dari sumber-sumber yang diperoleh.
Langkah terakhir yang penulis lakukan yaitu penulisan sejarah atau rekonstruksi atas fakta yang telah dikumpulkan yang bertujuan untuk memaparkan proses perkembangan pendidikan bahasa Jepang di Perguruan Tinggi di Surabaya dari tahun 1980-2013. Intinya, fakta-fakta sejarah yang didapat disusun sesuai dengan urutan waktu/kronologis dengan menitik beratkan unsur obyektifitas peristiwa dan meminimalisir unsur subyektifitas penulis.
Penyajian penilisan ini dibagi dalam tiga bagian, yang pertama yaitu pengantar yang merupakan penjabaran lebih lanjut dari proposal penelitian. Yang kedua yaitu hasil dari penelitian yang berisi uraian dan pembahasan dari permasalahan yang diteliti yang dituangkan ke dalam beberapa bab. Bagian terakhir yaitu kesimpulan yang berisi tentang gambaran umum dari yang telah diuraikan dalam bab-bab sebelumnya.


[1]Jepang Dewasa Ini”, Kementrian Luar Negeri,  Jepang. 1979. Halaman 29.
[2] Ibid.
[3] Kurasawa Aiko, Business and Commerce Profesor of Keio University dalam Meta Sekar Puji Astuti, “Apakah Mereka Mata-Mata?”, Ombak. 2008, Yogyakarta. Kata pengantar.
[4]  25 laki-laki, 100 perempuan, survei dari Konsulat Jepang di Indonesia, dalam Shimizu Hiroshi, “Rise and Fall of the Karayuki-san in the Netherlands Indies for the late Nineteenth Century to the 1930s” dalam Review of Indonesian and Malaysian Affairs, vol.26, (The Departement of Southeast Asian Studies, The University of Sydney), hl.20-21 dalam Meta Sekar Puji, thesis.
[5]  166 laki-laki, 448 perempuan, Ibid.
[6] Persada senior, “Suka Duka Pelajar Indonesia di Jepang”, Jakarta: CV. Antakarya, hal. 10
[7] Ibid. Saat Jepang menjajah Indonesia yang berdasar dari semua kalangan asalkan lulus dari serangkaian ujian yang diselenggarakan di kantor-kantor pemerintah daerah maupun pusat (Jakarta) ataupun juga merupakan perwakilan keraton atau kerajaan. Namun, mereka tidak serta merta langsung masuk ke perguruan tinggi. Mereka harus menempuh pendidikan di kokusai gakuyukai (Pelatihan bahasa jepang bagi orang asing), terlebih dahulu, karena mereka yang dikirim tersebut tidak mengerti mengenai bahasa Jepang. Setelah mereka lulus dan kembali ke Indonesia, mereka membentuk Persada (Persatuan Alumni Jepang). Saat mereka belajar ke Jepang, kondisi di Indonesia sedang mengalami pergolakan berat karena Jepang mulai mengeksploitasi SDM dan SDA yang ada di Indonesia untuk keperluan perang. Sehingga para pelajar yang telah menyelesaikan pendidikannya kebanyakan setelah Indonesia merdeka. Sebuah ikatan Persatuan Alumni Jepang yang mereka bentuk tersebut tidak semata-mata hanya untuk temu alumni, tetapi saling membagi pengalaman dari generasi pertama hingga saat ini. Tidak hanya itu, juga didirikan sebuah universitas dengan mengusung nama Persada. Hal tersebut bertujuan untuk mengembangkan bahasa Jepang di Indonesia.
[8]  M.C, Ricklefs. “Sejarah Indonesia Modern 1200 - 2004”, PT. Serambi Ilmu Semesta. 2005, Jakarta.
[9] Ibid.
[10] Ibid.
[11]  Pemerintah Jepang diwakili oleh Menteri Luar Negeri Jepang saat itu yakni Fujiyama Aichiro dan pemerintah Indonesia diwakili oleh Menteri Luar Negeri Subandrio
[12] Konsulat Jenderal Jepang Surabaya http://www.id.emb-japan.go.jp/birel_id.html diakses pada 20 November 2013.
[13] Prof. DR. Aiko Kurasawa, “Kajian Indonesia di Jepang Keio University, Tokyo, artikel.
[14]Marsudi Budi Utomo, “Memaknai 50 Tahun Hubungan Jepang Indonesia“ 
[16] Marsudi, op.cit
[17] Present Condition of Overseas Japanese-Language Education, Survey Report on Japanese-Language Education Abroad 1998-2012, The Japan Foundation Japanese-Language Institute, Urawa, 5-6-36 Kita-urawa, Urawa, Saitama 336-0002 Japan,  http://www.jpf.go.jp/e/japanese/survey/result/survey12.html, diakses pada 31 Januari 2014.
[18] Present Condition of Overseas Japanese-Language Education, Survey Report on Japanese-Language Education Abroad 1998-2012, The Japan Foundation Japanese-Language Institute. Ibid.
[19] Survey Report on Japanese-Language Education Abroad 1998-2012, The Japan Foundation Japanese-Language Institute. Ibid.
[20] Ibid.
[21] Ibid.
[22] Ibid.
[23] Ibid.
[24] “Peminat Bahasa Jepang di Jatim Tinggi”, http://surabayapagi.com/Untag-akan-Buka-Jurusan-Bahasa-Jepang/, diakses pada 6 Oktober 2013.
[25] Kopertis VII surabaya dalam Proposal Pengajuan Persetujuan Pembukaan Program Studi Bahasa dan Sastra Jepang, Fakultas Sastra Universitas Airlangga Tahap II. Edisi kelima, 2006. Tabel terlampir.
[26] “Sastra Jepang Makin Diminati”, http://www.surya.co.id/Surabaya/surya_online/sastra_jepang_makin_diminati.htm diakses pada 12 November 2013.
[27] Sri Guna Najib Chaqoqo, “Materi dan Wacana Perkuliahan: Teori Pendidikan”, http://chaqoqo.staff.stainsalatiga.ac.id/2013/10/01/teori-pendidikan/ diakses pada 18 Januari 2014.
[28] seperti pengaruh lingkungan pendidikan dan kebijakan-kebijakan politik yang mempengaruhinya.
[29] Kondisi lingkungan akan mempengaruhi suatu pendidikan dan keberadaan pendidikan itu sendiri memiliki suatu tujuan yang mana disesuaikan dengan norma yang ada ataupun untuk menciptakan suatu norma yang belum ada dalam sebuah lingkungan tempat pendidikan itu berada.
[30] Setyawan Pujiono, “Pengembangan Kemampuan Berbahasa, Pendidikan Bahasa Indonesia Universitas Negeri Yogyakarta. Jurnal.
[31] Setyawan, Ibid.
[32] Setyawan, Ibid
[33] Setyawan, Ibid
[34] Setyawan, Ibid
[35] kemampuan untuk memahami dan menteorisasikan melalui ketrampilan verbal, numeral, spasial atau menalar praktis dan tiga dimensi, serta menuangkannya dalam bentuk kata-kata.
[36] kemampuan untuk mengenali dan mengelola emosi diri sendiri dan orang lain, sekaligus untuk kepentingan hubungan sosialnya.
[37] kemampuan untuk mengenal dunia sekitarnya dalam bentuk memahami, mengaplikasikan, memadukan, dan mengevaluasi.
[38] kemampuan mengalami dan menghayati nilai-nilai yang darinya tumbuh kemampuan untuk bersimpati, berempati, berpartisipasi, dan mengorganisasi nilai-nilai kehidupan yang terinternalisasi dalam dirinya.
[39] kemampuan untuk menggunakan pancaindera dan anggota tubuh dalam bentuk meakukan tindakan, mengorganisasi, kepercayaan diri dalam ketrampilan hidup (lifeskill).
[40]“Sistem Pendidikan Tinggi”,  http://www.gunadarma.ac.id/en/page/sistem-pendidikan-tinggi.html. diakses pada 18 Januari 2014.
[41] perguruan tinggi yang menyelenggarakan program pendidikan vokasi dalam satu cabang atau sebagian cabang ilmu pengetahuan, teknologi atau kesenian tertentu.
[42] perguruan tinggi yang menyelenggarakan program pendidikan profesional dalam sejumlah bidang pengetahuan khusus.
[43] perguruan tinggi yang menyelenggarakan pendidikan vokasi dan akademik dalam lingkup satu disiplin ilmu pengetahuan, teknologi atau kesenian tertentu.
[44] institusi perguruan tinggi yang menyediakan pendidikan tinggi yang mengarah kepada level sarjana.
[45] Ibid.
[46] “Definisi dan Pengertian Pendidikan”, http://pengertian-definisi.blogspot.com/2012/01/definisi-dan-pengertian-pendidikan_31.html diakses pada 18 Januari 2014.
[47] Efri Harefa, “Sistem Pendidikan Tinggi”, http://poliprofesinias.wordpress.com/2013/03/23/sistem-pendidikan-tinggi/. Diakses pada 18 Januari 2014.
[48] A. Sobana Hs, “Workshop Penelitian dan Pengembangan Kebudayaan; Penulisan Karya Ilmiah dan Perekaman Data”
[49] Dudung Abdurahman, “Metode Penelitian Sejarah”, Jogjakarta: Ar-Ruz Media, 2007.
[50] Tidak hanya untuk menghasilkan karya yang bersifat kompilasi tapi juga memberikan sumbangan baru pada perkembangan ilmu pengetahuan (Alfian. 1994: 2) dalam Dudung Abdurahman, hal. 55.
[51] Dudung, Ibid. Hal. 55
[52] Salah satu pengalaman manusia yang dianggap penting (dari sudut pandang sosial)
[53] Ada pembuktian hal baru yang substansial dan penting atau menunjukkan interpretasi baru, yang bisa dipertanggungjawabkan dengan bukti-bukti baru
[54] Dapat dikerjakan dalam waktu yang tersedia, terjangkau sumbernya dan bisa menguasai bahasa yang terdapat pada sumber
[55] Sumber yang disampaikan saksi mata, bisa dalam bentuk dokumen (catatan rapat, daftar anggota organisasi, arsip pemerintah, dll), juga bisa dalam bentuk lisan berupa wawancara langsung dengan pelaku peristiwa atau saksi mata. Dudung Abdurahman, opo. cit., hal. 65.
[56] Kapan sumber dibuat, dimana sumber dibuat, siapa yang terlibat, dari bahan apa terbuatnya, apakah sumber tersebut asli. Dudung Abdurahman Hal. 68 - 70.

0 komentar:

Posting Komentar

 

iseng iseng © 2008. Design By: SkinCorner