HUBUNGAN INDONESIA – JEPANG BIDANG KEBUDAYAAN DAN PENDIDIKAN DI SURABAYA PADA TAHUN 1958 SAMPAI TAHUN 2008 DALAM KAJIAN SEJARAH

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Jepang setelah Perang Dunia ke-2 lebih sadar diri untuk tidak mengekspansi negara lain seperti sebelumnya, tetapi lebih memilih untuk bersahabat dan mementingkan demokrasi untuk membina hubungan dengan negara lain yang damai. Tujuan pokok politik luar negeri Jepang adalah memberikan sumbangan bagi perdamaian dan stabilitas dunia[1]. Jepang percaya bahwa diplomasi perdamaian lewat dialog dan kerjasama internasional ini mengarah bagi tercapainya keamanannya sendiri dan kemajuan kesejahteraan rakyatnya[2].
Masa pendudukan Jepang atas Indonesia selama tiga setengah tahun merupakan periode yang paling menentukan dalam sejarah Indonesia Karena pada masa itu rakyat Indonesia merasa lebih berani untuk melawan penjajah Belanda meskipun pada akhirnya Jepang balik menjajah Indonesia. Selama pendudukan Jepang banyak sekali perubahan-perubahan yang terjadi dalam masyarakat Indonesia menuju ke arah revolusi[3].
Hubungan atau interaksi antara Jepang dengan Indonesia sudah ada sejak lama, bahkan sebelum Jepang datang untuk menjajah Indonesia. Tanggal 20 Januari 1958 merupakan tanggal yang paling bersejarah. Tanggal tersebut merupakan awal hubungan diplomatik dan ditandatangani traktat damai dan pampasan perang antara pemerintah Jepang dan pemerintah Indonesia[4], lalu hubungan diplomatik Indonesia – Jepang secara resmi dimulai pada April 1958[5]. Kunjungan lawatan Soekarno yang pertama ke Jepang dilakukan pada tanggal 6 Juni 1959 untuk membahas mengenai pampasan perang dan kerjasama.
Pergantian pemerintahan dari Soekarno ke Soeharto membawa perubahan terhadap hubungan kerjasama yang dilakukan Indonesia dengan Jepang. Pada masa Soekarno lebih memprioritaskan pembangunan ekonomi yang bersifat anti-komunis, Namun dalam perjalanannya Soekarno lebih mengarah ke haluan kiri, sehingga banyak memunculkan pemberontakan dan kerusuhan.  Sedang pada Masa Soeharto menjadi lebih kapitalis. Namun sampai pada dasawarsa 80-an hubungan ini telah mengalami banyak perubahan yang lebih terfokus dan makin matang yang dapat terlihat dengan adanya pebangunan jalan-jalan di Jakarta, toserba Sarinah, Hotel Indonesia, gedung Wisma Nusantara, gedung Kedubes Jepang, Bank Tokyo dan perusahaan penerbangan Jepang.
Joseph S. Nye dari Harvard's Kennedy School of Government di bukunya Soft Power- The Means to Success in World Politics, mengungkapkan soft power sebagai kemampuan mencapai tujuan dengan tindakan atraktif dan menjauhi tindakan koersif. Di tataran hubungan internasional, soft power diawali dengan membangun hubungan kepentingan, asistensi ekonomi, sampai tukar menukar budaya dengan negara lainnya[6]. Hal itulah yang dilakukan oleh Jepang terhadap Indonesia yang merupakan salah satu bekas negara jajahannya berupa bantuan ekonomi atau pinjaman lunak.
Hubungan atau interaksi tersebut sebagian besar adalah dalam urusan ekonomi (perdagangan dan investasi). Jepang mengimpor banyak Sumber Daya Alam dari Indonesia berupa gas alam. Terlebih sejak gempa yang terjadi 11 maret 2011 lalu[7] dan Jepang memasarkan produk-produk industrinya ke Indonesia karena Jepang menginginkan Indonesia khususnya dan Asia Tenggara umumnya menjadi tempat yang penting bagi masa depan perekonomiannya yang dilandaskan hubungan yang saling menguntungkan dan dapat ditingkatkan.
Namun, dalam perkembangannya tidak hanya dalam urusan ekonomi saja, melainkan hampir ke semua aspek, khususnya dalam bidang pendidikan dan kebudayaan. Jepang memberikan beasiswa untuk belajar di universitas-universitas di Jepang. Juga, pembuatan pusat kebudayaan Jepang sebagai sarana infiltrasi budaya[8]. Akan tetapi pengiriman pelajar Indonesia ke Jepang sudah dimulai pada saat Jepang menjajah Indonesia yang berdasar dari semua kalangan asalkan lulus dari serangkaian ujian yang diselenggarakan di kantor-kantor pemerintah daerah maupun pusat (Jakarta) ataupun juga merupakan perwakilan keraton atau kerajaan[9].
Namun, pada masa penjajahan Belanda pun juga ada pelajar Indonesia yang belajar di Jepang. Namun, mereka tidak serta merta langsung masuk ke perguruan tinggi. Mereka harus menempuh pendidikan di kokusai gakuyukai [10]terlebih dahulu, karena mereka yang dikirim tersebut tidak mengerti mengenai bahasa Jepang. Setelah mereka lulus dan kembali ke Indonesia, mereka membentuk Persada (Persatuan Alumni Jepang)[11].
Menurut data statistik Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Jepang sampai dengan tahun 2010, jumlah mahasiswa Indonesia yang belajar di Jepang sebanyak 2.190 orang. Jumlah tersebut mengalami peningkatan sebanyak dua kali lipat sejak tahun 1997. Sekitar 60%-nya memilih bidang SAINS. Sedang jumlah total orang Indonesia yang belajar di Jepang tahun 2006 sebanyak 270.000 orang, tahun 2009 menjadi 716.000 orang dan menjadi urutan ke-3 di dunia[12].
Tindak lanjut dari adanya hubungan atau interaksi tersebut, Jepang membentuk suatu hubungan yang lebih kecil lagi yang disebut juga dengan Sister City[13] dengan beberapa kota di Indonesia, seperti sister city antara Jakarta dengan Tokyo dan Surabaya dengan Kochi[14].
Jalinan kerjasama Sister city antara Surabaya dan Kochi dibentuk pada 17 April 1997. Kerjasama yang disepakati meliputi manajemen perkotaan, manajemen pelabuhan, perlindungan lingkungan hidup, pengembangan dunia usaha, pendidikan, IPTEK, serta kesenian dan kebudayaan. Kegiatan-kegiatan yang telah dilakukan antara Lain: pertukaran staf Pemkot untuk bidang IPTEK, pengiriman delegasi pelajar untuk bidang pendidikan dan festival tari untuk bidang kesenian dan kebudayaan[15].
Dalam rangka peringatan 10 Tahun Sister City tahun 2007, berbagai kegiatan diselenggarakan antara lain : Seminar “Refleksi 10 tahun Kerjasama Sister City Surabaya-Kochi”, Festival Lintas Budaya, Penanaman Pohon sebagai tanda Persahabatan. Kegiatan tersebut dimulai dari tanggal 21-23 Juli 2007[16].

B.     Rumusan Masalah
Faktor yang paling mendasar yang menyebabkan Jepang manjadi negara maju di kawasan Asia adalah faktor ekonomi yang meningkat pesat setelah Perang Dunia ke dua. Dalam perkembangannya, tidak hanya dalam sektor ekonomi yang menjadi orientasi Jepang dalam mengembangkan negaranya di kawasan Asia maupun dunia internasional, melainkan juga sektor pendidikan dan kebudayaan.
Dalam pelaksanaan kerjasama bidang pendidikan, pemerintah Jepang menerima atau membuka kesempatan belajar di Jepang bagi orang asing  yang ingin melanjutkan studinya di Jepang dengan menggunakan sistem pemberian beasiswa, sedangkan dalam bidang kebudayaan, pemerintah Jepang, kedubes Jepang yang ada di suatu negara dan pemkot kota bersangkutan mengadakan acara pargelaran pentas seni dan budaya, dalam hal ini penulis khususkan pada kota Surabaya.
Permasalaan yang penulis temukan adalah
1.      Bagaimanakah latar belakang kerja sama antara Surabaya dan Kochi?
2.      Apakah dampak dan pengaruh dari kerja sama Surabaya dan Kochi bagi masyarakat kota Surabaya berkenaan dengan pembelajaran bahasa Jepang?
3.      Bagaimanakah tindak lanjut dari pemerintah kota Surabaya terhadap meningkatnya minat masyarakat Surabaya untuk mempelajari bahasa Jepang ?

C.     Tujuan dan Manfaat
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui:
1.      Latar belakang kerja sama antara Surabaya dan Kochi
2.      Dampak dan pengaruh dari kerja sama Surabaya dan Kochi berkenaan dengan pembelajaran bahasa Jepang.
3.      Tindak lanjut dari pemerintah kota Surabaya terhadap meningkatnya minat masyarakat Surabaya untuk mempelajari bahasa Jepang
Sedangkan manfaat dari penelitian ini adalah memberikan sebuah informasi baru mengenai sejarah hubungan internasional yang dilakukan Jepang dengan Indonesia, terutama di kota Surabaya dalam bidang pendidikan dan kebudayaan serta dampaknya bagi masyarakat Surabaya.

D.    Tinjauan Pustaka
Penulis tidak menemukan penelitian sejenis maupun thesis mengenai topik yang penulis ambil. Penelitian yang ada yang pernah dilakukan adalah mengenai kerjasama Indonesia-Jepang dalam bidang ekonomi saja. Sehingga penelitian yang penulis lakukan adalah penelitian yang baru. Karena merupakan penelitian yang baru, penulis tidak menemukan penelitian acuan, sehingga penulis mencoba untuk mengkaitkan pengaruh kebudayaan terhadap suatu hubungan diplomasi antar dua negara dari sumber yang penulis berhasil temukan dan juga sumber mengenai situasi pembelajaran bahasa Jepang di Indonesia.

E.     Metode dan Sumber Penelitian
Penelitian ini menggunakan metode penelitian sejarah yaitu metode atau cara yang digunakan sebagai pedoman dalam melakukan penelitian peristiwa sejarah dan permasalahannya. Dengan kata lain, metode penelitian sejarah adalah instrumen untuk merekonstruksi peristiwa sejarah (history as past actuality) menjadi sejarah  sebagai kisah (history as written). Dalam ruang lingkup Ilmu Sejarah, metode penelitian itu disebut metode sejarah[17].
Dalam penelitian sejarah, terdapat langkah langkah yang harus dilakukan, yaitu pemilihan topik, study pendahuluan dan implementasi penelitian. Pemilihan topik dilakukan untuk menentukan pembahasan dan batasan pembahasan tersebut. Study pendahuluan dilakukan untuk mencari sumber yang mengandung data yang relevan dengan topik yang sudah diambil seh ingga bisa menentukanbatasan temporal (waktu) dan spasial (tempat) topik yang diangkat. Dalam implementasinya, terdapat beberapa cara, yaitu heuristik, kritik, interpretasi dan historiografi[18].
Metode yang lain yang digunakan adalah metode deskriptif, yaitu suatu metode yang berusaha menggambarkan dan menginterpretasikan objek sesuai dengan apa adanya[19]. Tujuan dari metode ini adalah membuat deskripsi, gambaran atau lukisan secara sistematis, factual dan akurat mengenai fakta-fakta, sifat-sifat serta hubungan antar fenomena yang diselidiki (Nazir, 2003 dalam anneahira.com)[20].  Yang akan ditempuh melalui observasi[21] dan study kepustakaan[22].
Metode yang ketiga adalah dengan wawancara. Penulis akan memilih subyek wawancara yang terkait dengan topik yang sedang diteliti penulis maupun subyek yang berada dalam kurun waktu yang menjadi batasan pembahasan topik yang penulis teliti, yang berdomisili di Surabaya.
Sumber yang dipakai penulis adalah berupa arsip-arsip yang valid dan terkait dengan materi yang diambil penulis. Bahan tersebut didapatkan dari Badan Arsip Nasional maupun dari arsip yang dimiliki oleh pemerintah Surabaya dan Konjen Jepang Surabaya. Selain itu juga menggunakan buku-buku yang sesuai yang terdapat di perpustakaan kampus, perpusakaan daerah Surabaya maupun perpustakaan Konjen Jepang Surabaya.
Selain itu juga menggunakan data dari hasil wawancara yang akan diolah secara obyektif oleh penulis. Sumber yang terakhir yang dipakai adalah internet sebagai bahan penunjang dengan persentasi yang lebih kecil dari sumber-sumber yang sudah disebutkan sebelumnya.

F.      Landasan Teori
Teori yang dipakai penulis dalam penelitian ini adalah teori mengenai hubungan internasional. Istilah hubungan internasional (Internasional Relation) dicetuskan oleh Jeremy Bantham yang merumuskan bahwa hubungan internasional bisa di golongkan sebagai suatu ilmu yang mana merupakan satu kesatuan disiplin dan memiliki ruang lingkup serta konsep-konsep dasar[23]. Sedang menurut Stanley Hoffmann menyebutkan bahwa hubungan internasional sebagai subyek akademis, terutama memperhatikan hubungan politik antar bangsa (Dr. Hilman Adil, Mc Clelland VII)[24]. Namun, dari pengertian tersebut terlalu sempit ruang lingkupnya, karena dalam sebuah hubungan internasional tidak terbatas hanya pada sektor politik saja, melainkan bisa dalam sektor ekonomi, sosiologi, psikologis, idiologi, budaya dan militer[25].
Tidak ada urut-urutan yang jelas dalam sektor-sektor tersebut dalam sebuah hubungan internasional, tetapi hanya pada sektor mana yang menonjol pada suatu saat dalam suatu kasus atau peristiwa. Dan pada dasarnya dalam sebuah hubungan internasional ruang lingkupnya itu kompleks sekali sehingga untuk memberikan sebuah definisi yang jelas mengenai hubungan internasional mengalami kesusahan.
Dalam sebuah hubungan internasional, pasti terdapat suatu sistem yang mengatur. Dalam hal ini adalah sebuah sistem internasional. Dalam suatu sistem terdiri dari beberapa subsistem atau unit yang juga terdiri dari sub-subsistem atau sub-subunit yang juga saling mengadakan hubungan satu sama lain, yang menyerap serta mencakup semua interaksi dalam ruang lingkup keseluruhan sistem.
Sebuah sistem internasional dibangun atas kerja sama yang kadang kala meloncat turun (anjlog) sampai pada ke tingkat konflik atau kekacauan sehingga otomatis sistemnya pun bisa berubah. Juga tidak mengenal adanya pemerintahan yang disusun secara hierarkis dan tidak ada penetapan juridiksi yang dapat memaksakan berlakunya norma-norma yang ada[26].
Sistem tersebut merupakan sistem yang kompleks karena banyak mengalami variasi dalam proses perubahan dari suatu keadaan ke keadaan yang lain, selalu berubah dari waktu ke waktu, era ke era dalam waktu yang relatif; bisa dalam waktu dekat, bisa juga dalam waktu yang panjang. Jadi, berubahnya sistem tergantung pada waktu, dan jika berbicara mengenai waktu, bisa dikaitkan dengan kronologis. Dalam pembahasan mengenai kronologis, akan menyangkut mengenai pembahasan sejarah.
Teori kedua yang penulis gunakan adalah teori kebudayaan. Dalam buku Strategi Kebudayaan – Suatu Pendekatan Filosofis disebutkan bahwa kebangkitan budaya akan mendorong timbulnya pembaharuan budaya, semangat baru, hidup baru dan persepsi baru yang mana akan menyeimbangkan pembangunan (Soerjanto : 1993). Pembangunan yang dimaksud bukan sekedar pembangunan fisik, tetapi menumbuhkan manusia-manusia warga bangsa secara sosial-ekomomi dan pribadi, menumbuhkan pemerataan dalam proses dan hasil yang nantinya akan menimbulkan rasa solidaritas di kalangan masyarakat. Dan sebagai dampak terbesarnya akan menumbuhkan rasa percaya diri, kebanggaan nasional, kemandirian bangsa yang didukung sikap patriotisme dan nasionalisme[27]. Sebagai hasil akhir akan mencipkatakan keseimbangan serta stabilitas dalam kehidupan masyarakat.
Selain itu juga menggunakan teori struktural tentang Pertukaran Sosial. Proses pergaulan sosial dapat digambarkan sebagai suatu pertukaran tindakan, yang nyata atau yang tidak nyata dan sedikit banyak bersifat menguntungkan atau berharga paling sedikit dua orang (Homans : 1961). Hubungan internasional antar dua negara termasuk juga kedalam sebuah pergaulan sosial, namun dalam skala yang luas. Suatu negara yang melakukan sebuah hubungan kerjasama pastinya melihat suatu keuntungan atau timbal balik dari negara lain yang dijadikan kawan kerjasama. Kerjasama yang dimaksudkan dalam penulisan ini adalah dalam bidang pendidikan dan kebuadayaan.

G.    Kerangka Konseptual
Konsep dasar penelitian ini adalah mengenai hubungan internasional yang mana dari bahasa Inggris berasal dari kata International Relationship. Dari frase itu, bisa dipecah menjadi dua kata yaitu International dan Relationship. Menurut Oxford Dictionary, kata International memiliki arti : Connected with or involving two or more contries (terhubung dengan atau mencakup dua negara atau lebih), sedangkan kata Relationship berarti : the way in which two people, group or countries behave towards each other or deal with each other (suatu cara atau langkah yang mana dua orang, kelompok atau negara yang berinteraksi satu sama lain atau melakukan perjanjian/transaksi satu sama lain).
Dari kata tersebut, penulisan penelitian ini memang merujuk pada sebuah interaksi hubungan internasional kedua negara. Karena penulisan ini adalah penulisan sejarah, kronologis dari interaksi hubungan kedua negara tersebut yang menjadi perhatian. Kronologis yang dimaksud merupakan urutan rentan waktu kejadian-kejadian yang terjadi selama rentang waktu yang menjadi batasan penulis. Dan dari batasan waktu tersebut akan dilihat hal-hal apa saja yang menjadi kendala dalam melakukan hubungan kerjasama tersebut.



DAFTAR PUSTAKA

Jepang Dewasa Ini”, Jepang: Kementrian Luar Negeri. 1979
“Kerjasama Sister city antara Surabaya dan Kochi www.surabaya.go.id diakses pada 9 Januari 2012
Metode Penelitian Deskriptif”, http://www.anneahira.com/metodologi-penelitian-deskriptif.htm, diakses pada 16 oktober 2012
A. Sobana Hs, “Workshop Penelitian dan Pengembangan Kebudayaan; Penulisan Karya Ilmiah dan Perekaman Data”
Drs. R. Soeprapto, “Hubungan Internasional: Sistem Interaksi dan Perilaku”, hal. 12
Konsulat Jenderal Jepang Surabaya http://www.id.emb-japan.go.jp/birel_id.html
Kuliah Umum Konjen Jepang tentang hubungan kerjasama Indonesia-Jepang di Universitas Airlangga
M.C, Ricklefs. “Sejarah Indonesia Modern 1200 - 2004”, Jakarta: PT. Serambi Ilmu Semesta. 2005.
Marsudi Budi Utomo, “Memaknai 50 Tahun Hubungan Jepang Indonesia“ , http://marsudibudiutomo.multiply.com/journal/item/71/Memaknai_50_Tahun_Hubungan_Jepang_Indonesia diakses pada tanggal 29 Agustus 2012.
Rakim, “Metode Penelitian”, http://rakim-ypk.blogspot.com/2008/06/metode-penilitian.html, diakses pada 16 Oktober 2012
Soerjanto Poespowardojo, “Strategi Kebudayaan – Suatu Pendekatan Filosofis”, hal : 38 – 39.
Suka duka pelajar Indonesia di jepang (buku????)


[1]Jepang Dewasa Ini”, Kementrian Luar Negeri,  Jepang. 1979. Halaman 29.
[2] Ibid.
[3]  M.C, Ricklefs. “Sejarah Indonesia Modern 1200 - 2004”, PT. Serambi Ilmu Semesta. 2005, Jakarta.
[4]  Pemerintah Jepang diwakili oleh Menteri Luar Negeri Jepang saat itu yakni Fujiyama Aichiro dan pemerintah Indonesia diwakili oleh Menteri Luar Negeri Subandrio
[5] Konsulat Jenderal Jepang Surabaya http://www.id.emb-japan.go.jp/birel_id.html
[6]Marsudi Budi Utomo, “Memaknai 50 Tahun Hubungan Jepang Indonesia“ 
diakses pada tanggal 29 Agustus 2012.
[8] Marsudi, op.cit
[9] Suka duka pelajar Indonesia di jepang (buku????)
[10] Pelatihan bahasa jepang bagi orang asing
[11] Suka duka pelajar… op.cit
[12] Kuliah Umum Konjen Jepang tentang hubungan kerjasama Indonesia-Jepang  di Universitas Airlangga
[13] Sister City adalah bentuk kerjasama internasional atas kesamaan geografis dan aktivitas kota yang mendorong terwujudnya kerjasama untuk saling belajar dan kerjasama di pelbagai bidang.
[14] Kochi merupakan kota pelabuhan yang dibuka sejak 400 tahun yang lalu. Sejak tahun 1994 Kochi memfokuskan perkembangannya berdasarkan promosi ekonomi
[15] “Kerjasama Sister city antara Surabaya dan Kochi www.surabaya.go.id diakses pada 9 Januari 2012
[16] Ibid.
[17] A. Sobana Hs, “Workshop Penelitian dan Pengembangan Kebudayaan; Penulisan Karya Ilmiah dan Perekaman Data”
[18] Heuristik: pencarian sumber primer dan sekunder. Kritik: penilaian secara intern dan ekstern terhadaop sumber yang sudah diperoleh. Interpretasi: penafsiran makna dan hubungan fakta. Hintoriografi: pencatatan sejarah sebagai kisah secara kronologis/diakronis.
[21] Melakukan pengamatan langsung terhadap obyek penelitian.
[22] menggunakan arsip sebagai jalan untuk merekonstruksi sebuah peristiwa sejarah yang penulis jadikan sebagai topik penulisan. Juga mengumpulkan data daru buku-buku yang memuat data yang penulis butuhkan sebagai data primer ataupun hanya sebagai data sekunder/referensi saja.
[23] Drs. R. Soeprapto, “Hubungan Internasional: Sistem Interaksi dan Perilaku”, hal. 12
[24] Drs. R. Soeprapto, Ibid.
[25] Ibid.
[26] Ibid, hal. 53
[27] Soerjanto Poespowardojo, “Strategi Kebudayaan – Suatu Pendekatan Filosofis”, hal : 38 – 39.
 

iseng iseng © 2008. Design By: SkinCorner