Senin, 25 Agustus 2014

PERKEMBANGAN PENDIDIKAN BAHASA JEPANG PADA PERGURUAN TINGGI DI SURABAYA TAHUN 1980 – 2013



BAB IV
PENUTUP

4.1. Kesimpulan
Perkembangan bahasa Jepang di Indonesia mengalami peningkatan sejak awal masuknya di Indonesia dengan dibukanya Jurusan Sastra Jepang di Universitas Indonesia dan Universitas Padjajaran. Yang dalam perkembangannya disusul universitas-universitas yang lain dikawasan Sumatera, dan sebagian besar Jawa; baik swasta maupun negeri. Hal tersebut dilatar belakangi karena makin banyaknya investasi Jepang di Indonesia dan membutuhkan banyak tenaga kerja yang trampil berbahasa Jepang. Di kawasan Jatim, yang terpusat di Surabaya terdapat empat perguruan tinggi yang membuka jurusan bahasa/sastra Jepang yaitu: Unesa, Unitomo, Untag dan yang terakhir adalah Unair.
Bahasa Jepang mulai dikenal dalam tingkat perguruan tinggi di Surabaya diawali oleh Unesa sekitar tahun 1981. Pendirian tersebut dilatar belakangi salah satunya disebabkan oleh banyaknya PMA Jepang yang masuk di Jawa Timur, khususnya Surabaya. Pada saat awal pendiriannya, jurusan ini sudah mendapatkan perhatian di masyarakat maupun dalam universitas. Pihak Jepang sendiri menyambut baik pendirian jurusan ini, sehingga kerjasama bisa terjalin dan hingga sekarang Unesa masih dipercaya sebagai tempat diselenggarakannya tes kemampuan bahasa Jepang yang diadakan oleh Konjen Jepang Surabaya.
Pada awal dibuka hingga menjelang tahun 2000-an, jumlah mahasiswa tiap angkatan berkisar 35-40 orang. Peningkatan jumlah mahasiswa dapat terlihat sejak tahun ajaran 2000/2001. Lulusannya nantinya akan bekerja di bidang keguruan, karena memang unesa mencetak lulusan sebagai seorang guru. Namun tidak menutup kemungkinan para lulusan tersebut bekerja di perusahaan Jepang atau bidang lainnya. Ada sekitar 16 dosen yang mengajar di jurusan ini. Selain itu ditambah dengan pengajar dari Jepang, namun jumlahnya maksimal dua orang. Pengajar Jpeang ini biasanya didapat dari bantuan dari Konjen Jepang untuk membantu meningkatkan mutu pengajaran
Universitas berikutnya ada Sastra Jepang Unitomo, yang berdiri pada tahun 1992 yang merupakan universitas kedua yang mengadakan pendidikan bahasa Jepang di Surabaya. Pendirian ini atas prakarsa dari ketua yayasan Unitomo yang menilai bahwa bahasa Jepang dinilai akan menjadi bahasa yang penting karena Jepang sendiri banyak melakukan investasi di Surabaya. Dalam perkembangannya, Unitomo mendapat apresiasi dari pihak Konjen Jepang atas dedikasinya sebagai universitas swasta pertama dalam mengajarkan bahasa Jepang di Surabaya.
Pada awalnya jumlah mahasiswanya sekitar 40 orang. Dan untuk selanjutnya mengalami peningkatan. Namun dalam perjalanannya mengalami pasang surut jumlah mahasiswanya. Meskipun demikian, mahasiswa Sastra Jepang Unitomo tidak kalah berprestasi dengan mahasiswa universitas lain dengan bidang yang sama. Salah satu prestasi yang menonjok adalah dalam bidang pidato bahasa Jepang. Tidak heran jika Sastra Jepang Unitomo sering mengirimkan mahasiswanya ke Jepang. Juga Unitomo memiliki jalinan kerjasama dengan beberapa kampus di Jepang dan lembaga Jepang lainnya.
Dalam perkembangannya, Unitomo kemudian menjalin kerjasama dengan pihak institusi Jepang, baik negeri maupun swasta. Salah satu wujud dari kerjasama yang dilakukan dengan pihak Jepang adalah pengiriman tenaga pengajar Jepang dan juga pertukaran pelajar. Pengajar Jepang dilibatkan secara langsung dalam kegiatan kegiatan yang ada guna membentuk mahasiswa-mahasiswa yang berkompeten dalam berbahasa Jepang baik di dalam maupun di luar kampus. Meskipun tenaga pengajar Sastra Jepang Unitomo bisa dikatakan sedikit, namun tidak mengesampingkan perkembangan akademik mahasiswanya. Salah satu wujud nyatanya adalah dengan memberikan bimbingan khusus terhadap mahasiswa yang mengalami kemampuan yang dibawah standar untuk dapat mengejar ketertinggalan perkuliahan.
Tidak lama setelah Sastra Jepang Unitomo berdiri, pada tahun 1994 berdirilah jurusan Bahasa Jepang Untag di bawah naungan Fakultas Sastra Untag Surabaya. Pada awal dibuka mampu menyedot animo masyawakat sebanyak 80 orang yang menjadi mahasiswa jurusan Bahasa Jepang Untag Surabaya. Namun disayangkan pada tahun kedua jumlah mahasiswa yang terdaftar hanya mencapai 20 orang. Sedangkan tahun-tahun berikutnya mengalami pasang surut peminat.  Pada tahun 2007-2008 mengalami penurunan disebabkan karena  persaingan dengan universitas negeri semakin ketat.
Meskipun jumlah mahasiswa yang ada masih kalah dengan universitas negeri, namun kemampuan akademis tidak bisa dianggap enteng. Mahasiswa Bahasa Jepang Untak diberikan bekal untuk berwirausaha sehingga saat setelah lulus mereka nantinya bisa memanfaatkan kemampuan berbahasa Jepang mereka untuk berwirausaha dan tidak melulu memanfaatkan lapangan kerja yang ada namun dengan peluang yang kecil. Tidak hanya itu, mahasiswa Bahasa Jepang Untag juga tidak sedikit yang melanjutkan studi ke Jepang, namun dengan biaya sendiri. Untag juga melakukan kerjasama dengan lembaga Jepang yang ada, khususnya Konjen Jepang surabaya berupa pengadaan fasilitas peunjang pengajaran. Dengan lembaga yang lain berupa pemberian pengajar Jepang untuk meningkatkan skill mahasiswanya dalam berbahasa Jepang, yang ditnjang juga dengan kegiatan-kegiatan akademik mahasiswa lainnya.
Dan yang terakhir adalah Sastra Jepang Unair yang didirikan pada tahun 2006 dibawah naungan Fakultas Ilmu Budaya Unair. Pendirian jurusan ini karena melihat kondisi perguruan tinggi yang ada dirasa kurang mampu untuk memfasilitasi minat masyarakat Surabaya akan Bahasa Jepang. Meski bisa dibilang masih muda, namun Sastra Jepang Unair telah siap berprestasi dalam kancah nasional maupun internasional, sesuai dengan visinya untuk mejadi pusat pengembangan ilmu bahasa dan budaya Jepang.
Jurusan ini sudah dirintis sejak tahun 2000, meski hanya menjadi sebuah mata kuliah tambahan di jurusan Sastra Inggris dan Sastra Indonesia. Pada angkatan pertama dan kedua, jumlah total mahasiswa yang terdaftar  sebanyak 50 orang, namun pada agkatan ketiga sampai tahun 2013, jumlah mahasiswa per-angkatan kira-kira 35-40 orang.
Seperti yang sudah dijelaskan, jurusan ini dirintis mulai tahun 2000-an dengan diawali oleh tiga orang dosen, sampai tahun 2013 total jumlah dosen yang ada berjumlah 13 orang, sepuluh orang dosen yang aktif mengajar dan empat dosen sedang menempuh S2 dan S3 di Jepang. Juga dibantu dengan tiga orang tenaga pengajar Jepang. Berkenaan dengan tenaga pengajar Jepang, mereka didapat dari hasil kerjasama dengan beberapa lembaga Jepang, seperti Ashinaga dan Jica, yang mengirimkan dua orang dari Ashinaga dan satu orang dari Jica untuk menjadi pengajar pembantu guna meningkatkan kemampuan mahasiswa. Kerjasama tersebut dimulai sejak tahun 2008. Untuk kerjasama dengan Ashinaga, selain mendapat tenaga pengajar, juga melakukan pengiriman pelajar untuk melakukan summer camp di Jepang dengan beberapa mahasiswa dari negara lain.
Perkembangan pendidikan bahasa Jepang di Surabaya tidak lepas dari campur tangan pihak lembaga Jepang yang ada, khususnya Japan Foundation yang memberikan dukungan penuh terhadap universiats-universitas di Surabaya yang mengadakan pendidikan bahasa Jepang. Sebagai contoh wujud dari kerjasama tersebut adalah pemberian laboratorium bahasa sebagai sarana penunjang pengajaran, bantuan pengajar guna meningkatkan kemampuan berbahasa Jepang, seminar, workshop, kuliah umum dan kerjasama dalam pargelaran budaya yang menjadi agenda rutin setiap tahun guna mengenalkan tentang Jepang tidak hanya dari segi bahasa namun juga budaya terhadap masyarakat Surabaya.
Para dosen yang sedang menempuh S2 dan S3 tersebut, selain karena ingin lebih mendalami bidang kajian pengajarannya juga karena kebijakan fakultas yang mengharuskan pendidikan minimal S2 untuk menjadi seorang dosen. Namun tidak hanya dosen yang mengejar beasiswa untuk memperdalam ilmunya, mahasiswa yang lulus ataupun masih aktif kuliah, saat mendapatkan peluang untuk belajar ke Jepang pun tidak sedikit.
Selain itu, kampus-kampus yang mengadakan jurusan Bahasa/Sastra Jepang di Surabaya memiliki banyak kegiatan yang bertujuan untuk meningkatkan pemahaman akan Jepang, baik dari segi bahasa maupun budaya dan kebiasaan. Sebagai contoh, festival budaya yang menjadi agenda rutin tiap kampus yang didalamnya menyuguhkan kegiatan-kegiatan yang bersifat akademik (berupa lomba-lomba akademik yang diikuti pelajar SMA) dan kegiatan kebudayaan yang menjadi tradisi masyarakat Jepang pada umumnya dan festival budaya pop Jepang yang lain.

4.2. Saran
            Dalam penulisan skripsi ini, lingkup permasalahan yang diangkat adalah Perkembangan Pendidikan Bahasa Jepang di Surabaya Dalam Tingkat Perguruan Tinggi Pada Tahun 1980 – 2013. Perkembangan bahasa Jepang untuk kawasan Jawa Timur tidak hanya terpaku di Surabaya, karena secara global di Jawa Timur sendiri pun, bahasa Jepang juga sudah banyak peminatnya, hanya saja belum adanya fasilitas yang bisa menampungnya seperti di Surabaya. Dalam skala Jawa Timur setidaknya masih ada lagi dua perguruan tinggi yang menyelenggarakan pendidikan bahasa Jepang. Untuk itu, penelitian selanjutnya bisa membahas perkembangan bahasa Jepang dalam skala universitas-universitas yang ada di Jawa Timur atau bisa juga membahas perkembangan bahasa Jepang dalam skala SMA.

0 komentar:

Posting Komentar

 

iseng iseng © 2008. Design By: SkinCorner